Macan Tutul – Taksonomi, Morfologi, Jenis, Habitat, Perilaku & Kelangkaan
Macan tutul merupakan satu dari empat jenis satwa yang masuk dalam keluarga kucing besar di dunia. Secara fisik hewan ini memiliki tampilan seperti dengan macan dan harimau. Oleh alasannya kemiripan tersebut, maka juga kuat kepada penamaan dan metode klasifikasnya.
Satwa buas yang berasal dari keluarga kucing ini terbagi menjadi beberapa sub-spesies yang tersebar nyaris di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Setiap spesies mempunyai keunikan masing-masing. Di alam liar harimau tutul mempunyai kebiasaan yang membedakannya dengan jenis kucing hutan lainnya.
Taksonomi
Macan tutul adalah golongan kucing besar yang juga disebut selaku harimau dahan. Hewan karnivora ini memiliki kemampuan untuk memanjat pohon dengan sangat bagus.
Saat pertama kali ditemukan oleh para peneliti, mereka menganggap kalau predator ini adalah jenis bibit unggul dari harimau dan singa. Atas alasan tersebut lalu menimbulkan harimau tutul disebut selaku leopard di Eropa.
Berikut ini ialah sistem pembagian terstruktur mengenai atau taksonomi dari macan tutul secara biasa .
| Kingdom | Animalia |
| Filum | Chordata |
| Kelas | Mammalia |
| Ordo | Carnivora |
| Famili | Felidae |
| Genus | Panthera |
| Spesies | Panthera pardus |
Morfologi
Spesies dengan nama Latin Panthera pardus ini mempunyai fisik tangguh dan bentuk badan mirip harimau serta singa. Namun bila diperhatikan secara seksama, tubuh harimau tutul tampak ramping dan panjang dengan kaki yang berskala pendek. Bagian ekornya berukuran cukup panjang serta memiliki fungsi sebagai penjaga keseimbangan.

Ukuran harimau tutul jantan umumnya lebih besar dibanding jenis kelamin betina. Berat rata-rata binatang buas ini berkisar antara 28 hingga 90 kg dengan tinggi tubuh antara 57 hingga 70 cm dan panjangnya mulai 90 hingga 190 cm. Di habitat aslinya, macan tutul mampu bertahan hidup sekitar 10 hingga 20 tahun.
1. Bentuk Kepala
Bagian kepala binatang mamalia ini cukup khas dengan konstruksi tengkorak besar dan luas. Otot bagian rahangnya terlihat kuat dan besar lengan berkuasa, sehingga menjadikannya terlihat lebih karimastik. Meski mempunyai kepala besar, tetapi telinganya kecil dengan bentuk lingkaran.
Salah satu ciri khas harimau tutul terletak di bagian parasnya, ialah pada bagian alis yang biasanya ditumbuhi rambut panjang dan lebat. Bulu atau rambut tersebut berfungsi sebagai pelindung mata khususnya dikala bergerak dalam semak-semak lebat. Pada bab atas bibirnya terdapat bercak gelap dan juga memiliki kumis panjang seperti keluarga kucing besar yang lain.
2. Warna Tubuh
Secara keseluruhan badan macan tutul identik dengan adanya bercak hitam pada bulunya. Akan tetapi bahwasanya warna tubuhnya sungguh dipengaruhi oleh pembiasaan mereka kepada lingkungan atau habitatnya. Populasi yang hidup di kawasan terbuka mirip savana memiliki warna berlainan dengan populasi di hutan tertutup.
Macan tutul yang hidup di area padang rumput cenderung memiliki bulu dengan warna dasar kuning muda. Sedangkan spesies yang hidup di dalam hutan belantara lazimnya memiliki bulu yang berwarna lebih gelap serta terdapat lebih banyak bercak hitam atau marking di tubuhnya.
Marking atau bercak hitam di badan harimau tutul apabila diamati lebih akrab nampak memiliki bentuk dasar. Bentuk acuan ini juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Misalnya sub-spesies yang hidup di daerah Afrika Selatan mempunyai marking berupa menyerupai persegi.
Sedangkan harimau tutul atau leopard yang menghuni kawasan Afrika Timur diketahui mempunyai marking berpola lingkaran. Selain itu kondisi marking di tubuhnya juga berbeda-beda khususnya pada area kaki, dada, dan paras . Kemudian pada bagian ekor sub-spesies ini terdapat bentuk seperti cincin.
3. Kaki
Dibanding spesies kucing besar yang lain, harimau tutul memiliki kaki berukuran pendek. Namun dengan ukuran kaki seperti itu justru sangat menolong hewan ini dalam melakukan acara sehari-hari, khususnya berburu mangsa, berlari, dan bahkan pada ketika memanjat tebing curam.
Dengan ukuran kaki pendek, harimau tutul dapat berlari kencang utamanya saat memburu mangsa buruan atau melarikan diri dari ancaman lawan. Kecepatan maksimum lari predator ini ialah sekitar 45 km per jam. Tidak cuma itu, kaki yang berukuran pendek juga memudahkannya untuk memanjat pohon.
Perilaku Macan Tutul
Macan tutul mempunyai rangkaian sikap sehari-hari yang membedakannya dengan spesies lain. Perilaku tersebut berkaitan dengan kegiatan berjalan santai sambil mengitari habitatnya, berburu mangsa, dan upaya pinjaman diri.
Berikut ini ialah beberapa perilaku khas dari harimau tutul, antara lain:
1. Berburu di Malam Hari
Macan tutul merupakan salah satu hewan buas yang sungguh handal. Spesies ini biasanya akan berburu mangsa pada waktu malam hari dengan mempergunakan indera penciumannya yang sungguh tajam dan juga kekuatan kakinya untuk memburu, memanjat, dan melompat ketika menerkam mangsanya.
Pada waktu siang hari, keluarga kucing hutan ini biasanya akan menghabiskan waktu dengan berjalan mengitari daerah teritorialnya dan memanjat pepohonan. Setelah itu mereka akan beristirahat di atas pohon atau di antara bebatuan sambil menunggu waktu malam tiba untuk lalu berburu.
2. Hidup Menyendiri
Macan tutul dikenal sebagai hewan yang lebih senang hidup menyendiri atau soliter. Binatang ini cenderung menghindari individu dalam satu spesiesnya dan juga satwa lain. Hanya pada waktu tertentu harimau tutul tampak berdampingan dengan individu lain, seperti saat kawin dan mencari mangsa.
Bahkan jikalau tidak sengaja berjumpa dengan harimau tutul lain, maka binatang ini tidak segan untuk bertengkar sampai tabrak. Oleh karena itu sebagai bentuk komunikasi untuk memperlihatkan keberadaannya, hewan karnivora ini lazimmengeluarkan suara-bunyi serak.
3. Mempunyai Wilayah Teritorial
Wilayah teritorial merupakan salah satu hal yang identik dengan kehidupan binatang liar seperti macan tutul. Satwa ini akan menandai daerah teritorialnya dengan cara mencakar pepohonan di sekeliling hingga meninggalkan bekas dan juga membuang kotoran untuk memberi anyir khusus yang mudah mereka kenali.
Menariknya, meski penyendiri dan tidak bahagia akan gangguan, daerah kekuasaan macan tutul lazimnya tumpang tindih dengan macan tutul lain. Hal tersebut tidak begitu dipermasalahkan oleh satwa ini. Biasanya daerah teritorial seekor jantan tumpang tindih dengan teritorial beberapa ekor betina sekaligus.
4. Kemampuan Kamuflase
Macan tutul mempunyai kesanggupan untuk berkamuflase dengan sangat baik dalam berbagai kondisi. Satwa ini lazimnya akan melakukan kamuflase di habitatnya utamanya pada dikala mengincar mangsa. Kemampuan ini juga sering dimanfaatkan harimau tutul untuk menyingkir dari ancaman musuhnya.
Area yang sering ditempati untuk berkamuflase yakni di antara bebatuan atau semak belukar. Hal itu mengakibatkan satwa lain tergolong manusia akan sukar menemukannya. Bahkan kemampuan tersebut juga dapat dipraktekkan macan tutul dikala berada di pemukiman penduduk.
Habitat dan Persebaran
Habitat alami macan tutul ialah kawasan hutan dengan tutupan vegetasi yang lebat. Hutan rimba tersebut berada pada ketinggian optimal 2.500 meter di atas permukaan laut. Meski begitu satwa ini juga bisa bertahan hidup pada lingkungan kering mirip daerah bercadas ataupun kawasan bersuhu ekstrem.

Jenis hewan yang juga disebut macan dahan ini mesti terus mengupayakan perjuangan tunjangan diri, terutama didorong oleh kebutuhan kuliner. Bahkan saat ini penemuan harimau tutul yang memasuki area perkebunan ataupun pemukiman penduduk sudah menjadi hal yang cukup umum terjadi.
Persebaran harimau tutul di dunia cukup luas, karena tersebar mulai dari kawasan sub-Sahara di Afrika, melintasi kawasan Asia Barat serta Timur Tengah, sampai meraih Asia Selatan dan juga Asia Tenggara, bahkan ada pula yang hidup di Siberia.
Makanan / Mangsa Buruan
Macan tutul yaitu binatang yang tergolong dalam kelompok karnivora atau pemakan daging. Binatang yang biasa menjadi mangsa dari keluarga kucing besar ini sungguh banyak dan bervariasi. Contohnya yakni kera, kambing, domba, ular, burung, serangga, impala, kelinci, hyrax, gazel, jackel, duiker, wildebeest, elang, binatang pengerat, dan antelop.
Sebagai predator opurtunistik, macan tutul mempunyai cara bertahan hidup yang cukup unik. Satwa ini akan menyerap semua unsur yang mengandung kelembaban dari kuliner yang disantapnya. Kelembaban tersebut akan tersimpan di dalam tubuhnya sebagai dukungan untuk bertahan hidup meski tidak minum dalam waktu yang cukup panjang.
Ketika berhasil menangkap buruannya, macan tutul umumnya akan menyimpan mangsanya di atas pohon. Hal ini dilakukan demi menghindari hyenna dan singa yang sering kali juga berusaha mengambil atau mencuru hasil buruan.
Perkembangbiakan Macan Tutul
Macan tutul mulai memasuki fase kematangan reproduksi ketika mencapai usia dua hingga tiga tahun. Kaprikornus pada rentang usia inilah satwa yang juga disebut macan dahan ini mulai melakukan proses perkawinan. Masa paling sempurna untuk kawin ialah dikala demam isu hujan.
Meski selaku binatang yang suka hidup menyendiri, tetapi harimau tutul akan lebih terbuka dikala isu terkini kawin datang. Pada ketika itu sang jantan akan menghabiskan lebih banyak waktu bareng betina. Bahkan dalam sehari satwa ini mampu kawin antara tiga sampai empat kali dengan durasi waktu 85 menit.
Musim kawin macan tutul berjalan pada kisaran Bulan Agustus hingga bulan Desember. Ketika abad tersebut sudah selsai, biasanya betina akan hamil dalam waktu yang cukup singkat. Setidaknya spesies ini hanya memerlukan waktu antara 90 sampai 125 hari untuk mengandung anaknya yang biasanya berjumlah 2 sampai 5 ekor.
Sebagai hewan mamalia, macan tutul akan mengalami proses melahirkan dan lalu dilanjutkan dengan menyusui anak-anaknya. Satwa ini umumnya akan melahirkan anaknya di suatu sarang tertutup yang terlindungi oleh vegetasi lebat. Hal itu dikerjakan untuk bersembunyi dan menghindari ancaman dari luar.
Ketika bayi harimau tutul sudah menginjak usia enam sampai delapan ahad, tubuhnya mulai ditumbuhi rambut-rambut halus yang lebat. Warna rambutnya cenderung lebih gelap dan dibarengi bercak-bercak kabur yang hendak membantunya untuk berkamuflase pada dikala mulai belajar beraktivitas bareng induknya.
Memasuki usia tiga bulan, bayi macan tutul mulai diajari cara untuk mencari mangsa dengan mengikuti induknya saat berburu. Hingga usianya lebih dari satu tahun atau antara 13 sampai 18 bulan, bayi harimau tutul akan tetap tinggal bareng induknya. Kemudian sesudah itu mereka dilepas untuk mencari daerah teritorialnya masing-masing.
Status Kelangkaan
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List tahun 2015, spesies harimau tutul dengan nama Latin Panthera pardus berada dalam status Vulnerable (VU). Status tersebut memperlihatkan bahwa spesies ini sedang berada dalam kondisi rentan terhadap kepunahan sementara waktu ke depan.
Bahkan salah satu sub-spesiesnya, yakni Macan Tutul Srilanka dan Macan Tutul Arab saat ini sedang berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Sebab jumlah populasi dari jenis ini cuma tersisa sekitar 250 ekor. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika jenis macan tutul yang lain juga akan mengalami hal serupa pada tahun-tahun selanjutnya.
Sebenarnya populasi harimau tutul di dunia terus mengalami peningkatan dan penurunan, sehingga status kelangkaannya juga berubah-ubah. Ketika pertama kali tercatat dalam IUCN Red List pada tahun 1986, spesies ini sudah masuk dalam golongan binatang berstatus Vulnerable (VU) atau rentan.
Akan namun status tersebut kemudian turun menjadi Threatened (T) atau terancam rentan pada tahun 1988 dan juga di tahun 1990. Enam tahun lalu saat IUCN Red List kembali memperbaharui datanya, macan tutul dinyatakan berstatus Least Concern (LC) yang memberikan bahwa kondisinya tidak menawarkan tanda-tanda terancam.
Status itu masih tetap bertahan enam tahun lalu, tepatnya pada 2002. Sayangnya pada tahun 2008 statusnya kembali naik menjadi Near Threatened (NT) atau hampir terancam dan terus meningkat menjadi Vulnerable (VU) di tahun 2016. Status inilah yang sekarang dimiliki macan tutul tergolong sehabis evaluasi di tahun 2019 lalu.
IUCN Red List juga menyatakan bahwa terdapat berbagai yang menimbulkan penurunan populasi kucing besar ini secara drastis. Dari sekian banyak faktor, penyebab khususnya ialah sebab kegiatan insan dalam merambah hutan sebagai habitat berbagai jenis hewan
Jenis Macan Tutul
Pada awalnya para peneliti hanya memperkirakan jumlah sub-spesies dari macan tutul meraih 30 jenis. Akan namun sehabis melaksanakan penelitian dan observasi lanjut secara molekuler, didapatkan hanya ada 9 sub-spesises. Pernyataan tersebut kemudian juga diungkapkan di dalam International Union for Conservation of Nature.

Kesembilan sub-spesies tersebut tersebar mulai dari tempat Benua Afrika hingga Benua Asia. Berikut ini yaitu sembilan jenis harimau tutul yang ialah kalangan dari spesies Panthera pardus.
1. Panthera pardus pardus
Panthera pardus pardus atau Macan Tutul Afrika yakni sub-spesies yang memiliki corak berwarna paling banyak di tubuhnya. Corak tersebut meliputi warna kuning pucat, kuning keemasan, hingga kuning kecokelatan. Sesuai dengan namanya jenis ini cuma menghuni kawasan Afrika tepatnya di sepanjang area sub-Sahara.
2. Panthera pardus nimr
Panthera pardus nimr atau Macan Tutul Arab ialah salah satu sub-spesies yang hanya hidup di daerah Arab. Karakteristik sekaligus menjadi keunikan dari jenis ini yakni ukuran tubuhnya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan spesies yang lain. Sayangnya jumlah individu sub-spesies ini telah sangat sedikit, adalah tidak hingga 200 ekor.
3. Panthera pardus saxicolor
Panthera pardus saxicolor ialah sub-spesies yang cuma dapat didapatkan di kawasan Persia. Jenis ini juga biasa dikenal selaku Panthera pardus ciscaucasica, Macan Tutul Persia, dan Macan Tutul Kaukasus. Persebarannya mulai dari kawasan Afganistan Barat, Iran bab Utara, Turkmenistan Selaran, Turki Timur, sampai Pegunungan Kaukasus.
4. Panthera pardus melas
Panthera pardus melas atau diketahui dengan Macan Tutul Jawa merupakan spesies endemik Indonesia yang cuma ada di Pulau Jawa. Sub-spesies ini memiliki keunikan pada warna tubuhnya. Jika macan tutul lazimnya mempunyai bintik di kulit, macan tutul jawa justru ada yang berwana hitam legam tanpa bintik apapun.
5. Panthera pardus kotiya
Panthera pardus kotiya ialah Macan Tutul Srilanka yang di tempat asalnya umumdisebut dengan nama kotiya ataupun chiruththai. Keberadaan sub-spesies satu ini baru berhasil diidentifikasi pada tahun 1956 oleh Deraniyagala, seorang zoologis dari Srilanka. Hanya saja jumlah populasinya sudah sungguh menurun dan kini hanya tersisa sekitar 250 ekor.
6. Panthera pardus fusca
Panthera pardus fusca atau disebut Macan Tutul India dan Indian Leopard adalah satu dari lima keluarga kucing paling besar yang menghuni dataran India. Sub-spesies ini terlihat mempunyai warna mata bubuk-debu , tetapi makin diperhatikan warna matanya berkembang menjadi cokelat tua dengan bintik melingkar yang berwarna lebih gelap berpadu merah pucat.
7. Panthera pardus delacouri
Panthera pardus delacouri ialah sub-spesies harimau tutul yang hidup di tempat China sampai Asia Tenggara. Secara fisik jenis ini mempunyai kemiripan yang sungguh dekat dengan Macan Tutul China Utara. Adapun daerah persebaran sub-spesies ini mulai dari China Selatan, kemudian ke Vietnam, Thailand, Laos, Kamboja, sampai Malaysia.
8. Panthera pardus japonensis
Panthera pardus japonensis adalah sub-spesies yang membentuk habitat di daerah China bagian Utara, sehingga nama lazimnya yaitu Macan Tutul China Utara. Wilayah persebaran spesies ini dimulai dari kawasan China Tengah tepatnya di Lanzhou sampai meraih areal pegunungan selatan Gurun Gobi.
9. Panthera pardus orientalis
Panthera pardus orientalis yang lebih umum disebut sebagai Macan Tutul Amur yaitu sub-spesies yang tersebear di sepanjang areal hutan Rusia, Timur Laut China, sampai Korea. Keunikan harimau tutul dibanding kerabat satu spesiesnya yakni warna matanya antara hijau dan biru yang bersinar serta pola corak tubuhnya yang sangat menonjol .
Ancaman Kepunahan
Sebagai binatang yang berstatus Vulnerable (VU), macan tutul menghadapi berbagai bahaya dari luar yang menyebabkan penurunan populasinya. Ancaman tersebut mencakup kondisi habitat tinggalnya dan juga acara manusia yang mengusik.
Berikut ini yaitu beberapa bahaya kepada kehidupan macan tutul, antara lain:
1. Perburuan Liar
Perburuan liar menjadi ancaman serius yang dihadapi nyaris seluruh sub-spesies macan tutul di dunia. Kegiatan ilegal ini bahkan terus mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya populasi insan. Padahal mirip yang dikenali bahwa macan tutul ialah satwa yang tidak bahagia berinteraksi dengan makhluk lain termasuk insan.
Belum lagi saat insan berhasil menangkap binatang ini, tidak jarang melaksanakan penganiayaan sehingga berujung syok. Kegiatan perburuan biasanya dilaksanakan dengan tujuan mengambil bab tubuh macan tutul untuk diperdagangkan.
2. Perdagangan Organ Tubuh Macan Tutul
Kegiatan perdagangan liar anggota tubuh hewan seperti gajah, badak, dan juga macan tutul masih menjadi acara yang umum terjadi dalam pasar gelap. Hal inilah yang menjadi tujuan utama dari perburuan liar terhadap populasi harimau tutul yang masih marak terjadi sampai kini.
Bagian badan yang diperdagangkan adalah kulitnya, sebab mempunyai mutu baik dengan motif unik. Tidak cuma anggota badan, tetapi harimau tutul hidup pun biasa dijual untuk dijadikan hewan peliharaan. Bahkan data di IUCN menyatakan bahwa di India, setidaknya dalam seminggu empat ekor macan tutul berhasil dikejar .
3. Penyempitan Habitat
Peningkatan populasi manusia berimbas pada menyempitnya habitat yang menjadi tempat tinggal harimau tutul. Habitat tersebut tidak hanya dibuka sebagai pemukiman penduduk, namun juga menjadi lahan perkebunan dan pertanian. Kegiatan ini paling banyak dikerjakan di tempat Asia Tenggara, sebab hutan dibuka menjadi kebun karet dan kelapa sawit.
Berkurangnya habitat hidup macan tutul menjadikan satwa yang memiliki daerah teritori setiap individu ini mempunyai kawasan tinggal yang sungguh sempit. Akibatnya pertengkaran antara individu mengalami kenaikan yang juga memberi pengaruh terhadap pengurangan populasi harimau tutul.
4. Mangsa Berkurang
Seperti telah disebutkan bahwa kegiatan perburuan dilakukan pada berbagai harimau jenis binatang tidak terkecuali harimau tutul dan mangsanya. Apalagi mangsa harimau tutul yang dagingnya umumdimakan manusia mirip kambing, domba, ular, dan rusa. Hal itu secara perlahan menimbulkan jumlah mangsa buruan terus berkurang.
Akibatnya hewan ini kesusahan memperoleh makanan yang juga diperlukan untuk menghasilkan lemak sebagai pertahanan tubuhnya. Disebutkan dalam IUCN bahwa aktivitas perburuan liar di Zambia dan Mozambik memicu penurunan mangsa macan tutul secara drastis, terlebih acara tersebut masih marak terjadi di dalam Suaka.
Keunikan Macan Tutul
Macan tutul memiliki keunikan yang berbeda dibanding jenis kucing besar yang lain. Keunikan tersebut diperoleh melalui banyak sekali pengamatan terhadap sikap dan acara sehari-hari kelompok mamalia ini.
Berikut yakni beberapa keunikan yang dimiliki oleh harimau tutul, antara lain:
1. Kucing Besar Terkecil
Diketahui total keseluruhan keluarga kucing besar yang ada di permukaan bumi yakni empat spesies. Keempat spesies tersebut adalah macan, singa, jaguar, dan juga macan tutul. Menariknya dari keempat kucing besar tersebut, harimau tutul ialah spesies dengan ukuran tubuh paling kecil.
2. Handal Beraktivitas di Darat dan Air
Macan tutul tidak hanya dikenal selaku satwa yang andal berlari, memanjat tebing curam, hingga melompat sejauh enam meter dengan tinggi tiga meter. Selain itu hewan ini juga mempunyai kesanggupan sangat baik dalam berenang di air.
3. Berburu Hanya Saat Butuh Makan
Salah satu keunikan harimau tutul yakni mereka cuma akan mengejar-ngejar mangsa ketika sedang lapar. Bahkan binatang ini tidak akan mengejar-ngejar antelope yang merupakan mangsanya apabila tidak merasa lapar. Macan tutul akan menawarkan ekor bawahnya yang berwarna putih untuk memperlihatkan bahwa mereka tak mau berburu.
4. Tidak Mengaum
Meski banyak orang yang menganggap bahwa macan tutul merupakan hewan yang mampu mengaum, tetapi pada kenyataannya satwa ini tidak bisa mengeluarkan bunyi auman. Justru macan tutul hanya bisa mengeluarkan bunyi gonggongan dan mengeram dikala sedang marah. Selain itu pada saat merasa nyaman satwa ini akan mendengkur.
5. Hewan Mitologi
Apabila menelisik sejarah yang ada di aneka macam potongan dunia, macan tutul ialah salah satu binatang yang kerap dikaitkan dengan mitologi dalam dongeng rakyat. Hal itu menunjukkan bahwa satwa ini sudah lama dimengerti oleh manusia. Bahkan beberapa negara Afrika menimbulkan macan tutul selaku emblem olahraga.
Komentar
Posting Komentar